Terpercaya, Inovatif, Kreatif

Baru saja kita melakukan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden dan Wakil Presiden untuk masa jabatan 2009-2014 pada tanggal 8 Juli 2009 kemarin. Sebuah pesta demokrasi rakyat Indonesia untuk memilih langsung pemimpinnya dari tiga pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Namun, apakah Presiden yang terpilih nanti merupakan Pemimpin besar yang tepat bagi negara kita ini? Dan seperti apakah pemimpin besar itu?


Nicholls dalam bukunya Power: A Political History of the Twentieth Century (1990) mengungkapkan adalah lumrah bila satu bangsa dalam situasi anomaly (seperti kita alami saat ini), ada orang yang berusaha menjadi pemimpin besar. Pemimpin besar dilahirkan oleh dinamika sosial-politik masyarakatnya. Karena itu, secara fisik dan psikis dia menyatu dengan denyut nadi kehidupan bangsanya.

Siapa saja pemimpin besar itu? Dari studi kami diperoleh beberapa orang yang dapat dikatakan sebagai pemimpin besar karena perbuatan dan ucapannya yang sangat luar biasa. Kita sebut saja Mahatma Gandhi menjadi pemimpin besar India walau dia tidak pernah menduduki jabatan apa pun di jajaran pemerintahan. Dia merumuskan nilai-nilai kemasyarakatan bangsa India sambil menyelaraskan penampilan dengan filosofi ajaran-ajaran itu. Pakaiannya hanya dua helai kain, kakinya bersandal jepit.

Demikian pula Ho Chi Minh untuk Vietnam yang bersepatu sandal dari ban bekas. Bila pergi keluar negeri, dia naik pesawat komersial kelas ekonomi.

Hitler sadar Jerman membutuhkan kebanggaan setelah martabatnya direndahkan bangsa Romawi. Keluarlah doktrin totalitasnya: “disiplin, pantang menyerah, dan berani berkorban” yang menjadi kunci sukses bangsa Jerman.

Churchill menggelorakan sikap optimistis bagi bangsa Inggris. Tantangan adalah kesempatan, bukan hambatan. Nasib Inggris ada di tangan orang Inggris. Dia tunjukkan komitmennya dengan tidak menggunakan barang-barang buatan luar negeri. Semuanya harus made in England.

Napoleon Bonaparte menjadi pemimpin besar bangsa Prancis. Bukan hanya karena idenya tentang prinsip demokrasi. Dia pimpin langsung pasukan ketika menyerang bangsa-bangsa Eropa lain. Lewat penaklukan itu dia menebarkan ajaran-ajarannya.

Indonesia juga melahirkan banyak pemimpin besar. Bung Karno hadir dengan ajaran populis, kekeluargaan, karena itulah kenyataan hidup bangsanya. Dia kenakan peci hitam yang banyak digunakan orang Indonesia. Di atas meja makannya ada lukisan pengemis, agar dia ingat pada rakyat saat menyantap sayur lodeh, tahu, dan tempe kesukaannya.

Saat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Haji Agus Salim memakai sarung, peci hitam, dan merokok kretek. Saat diprotes karena bau menyengat dari rokoknya, dia berujar, “Tuan-Tuan, benda inilah yang membuat Tuan-Tuan datang dan menjajah negeri kami.”

Bung Hatta hadir dengan kesederhanaan tak tertandingi. Saat gajinya sebagai Wapres akan dinaikkan, dia menolak. Katanya, “Keuangan negara tidak cukup kuat, sementara banyak rakyat melarat yang memerlukan uang itu.”

Sudah saatnya Indonesia kembali melahirkan seorang pemimpin besar lainnya yang seluruh pikiran, ucapan dan perbuatannya jauh dari kepentingan pribadi dan semata-mata hanya untuk bangsa dan negara Indonesia. Momen yang paling tepat untuk itu adalah di Pemilu 2009 ini. (JA)

Comments on: "Pemimpin Besar Untuk Indonesia" (1)

  1. indonesia tak akan mendapatkan pemimpin besar dengan pemilu …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: