Terpercaya, Inovatif, Kreatif

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik
pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana
…………..

Sepenggal lirik diatas sering terdengar belakangan ini. Lirik sederhana dan penuh humor yang dinyanyikan dengan aliran Reggae ini cukup melambungkan nama Mbah Surip, penyanyi dan pencipta lagu ini, di dunia musik Indonesia.

Lagu yang diciptakan tahun 1983 di Amerika ini ternyata bukan sembarang lagu. Filosofi yang terkandung di dalam liriknya sangat dalam. “Itu filosofinya para nabi dan rasul, yang ditakdirkan untuk menggendong semua umat manusia di dunia ini. Kalau dipikir-pikir, apa sih yang dicari dari kehidupan, kenapa kita enggak saling gendong-menggendong saja, saling gotong royong saja, untuk membuat kehidupan kita lebih bermakna,” kata Mbah Surip yang dikutip dari Harian Pikiran Rakyat (28/6/09).

Lirik tersebut juga bisa diartikan belajar salah. Seperti hidup yang tak pernah luput dari kesalahan. “Belajar salah itu, yang digendong bisa siapa saja, mau baik, galak, nakal, atau jahat,” ucapnya.

Emha Ainun Najib atau Cak Nun sering menggambarkan sosok Mbah Surip adalah gambaran “Manusia Indonesia Sejati” yang tidak pernah merasa susah, tidak pernah gelisah, tidak pernah sedih dan selalu tertawa, meskipun seringkali di ledek orang Mbah Surip tetap saja tertawa tidak pernah dendam, atau membalas ledekan tersebut. Menurut Cak Nun, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang dapat mengadaptasi filosofi yang terangkum dalam dua syair lagu, salah satunya adalah lagu “Tak Gendong”

Rakyat Merdeka edisi 30/4/06 melaporkan bahwa Cak Nun pernah mengundang Mbah Surip tampil bersama Kiai Kanjeng di depan pejabat di lembaga eksekutif dan legislatif Indonesia. Mbah Surip didaulat menyanyikan “lagu wajib” Kenduri Cinta(acara yang setiap bulan digelar Cak Nun di Taman Ismail Marzuki) itu di hadapan Wapres Jusuf Kalla, Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie dan banyak lagi yang lain.

Menurut Cak Nun, tugas para pemimpin bangsa adalah menggendong alias menimang rakyatnya ke mana-mana. Dan jika hal tersebut ditarik dalam spektrum yang lebih luas, pemimpin dituntut mengantarkan rakyat ke depan pintu kesejahteraan. Satu misi nasional yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.(J3K5)

Sumber : Pikiran-Rakyat edisi cetak (28/4/09) dan Rakyat Merdeka (30/4/06)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: