Terpercaya, Inovatif, Kreatif

SERAMBI MADINAH

Suasana pagi hari yang begitu indah yang diiringi dengan lantunan ayat suci al quran yang dibacakan sang ustadz tercinta, ustadz mu’tamad, aku berada di serambi masjid yang menjadi tempat ratapan hati untuk bersimpuh pada Rabbi semesta alam, masjid inspirasi tempat aku dulu menimba ilmu. Ya rabbi sungguh agung cintamu pada hamba ini, rizki yang kau berikan padaku sungguh luar biasa, aku malu padamu dengan segala kekhilafan yang terus aku buat.

Sekian lamanya aku tidak pernah lagi berkunjung ke masjid ini, masjid al husna yang penuh torehan sejarah hidup waktu aku masih berada di pesantren. Ustadz, lantunan ayat al quran yang kau ucapkan dari bibir kesolehanmu begitu menusuk hati ini, membuyarkan segala bentuk keresahan hidup yang aku alami semenjak aku keluar dari pesantren ini, ayat-ayat suci yang kau ucapkan dengan fasih dengan makhroj yang benar begitu menyihir setiap santri yang berada di masjid ini. Subhanallah semoga engkau dimuliakan di akhirat nanti.

Terpaku sudah aku lenyap merasakan manisnya kenangan dulu yang aku hadapi. Setelah satu setengah jam lamanya ritual subuh yang aku ikuti di masjid ini, dengan tilawahnya, al ma’tsurotnya dan I’lan (pengumuman) dari muharrikullugoh (pengurus bahasa), ritual yang masih tetap ada tak berbeda ketika aku masih di pesantren 4 tahun silam. Aku sengaja menemui usatadz mu’tamad untuk bersilaturahim dan mengungkapkan rasa riduku padanya. Ketika aku mendekatinya, beliau sontak langsung berucap “Ahlan wa sahlan akhi an nur, kayfa haluka? Anta bi khoirin? Sungguh indah penyambutan dari ustadz.. “ahlan bika ya ustadz, alhamdulillah bishihhatin, barakallah ustadz” balas aku. Tak terbendung rasanya aku ingin cepat-cepat bercakap dengan beliau. Aku ingat pertanyaan pertama yang beliau tanyakan, “bagaimana kondisi tarbiyah antum?” Sedikitnya aku sangat terkejut dengan pertanyaan tersebut, aku sedikit gugup dan ragu untuk menjawabnya.. “akhi kenapa dengan antum? Antum tidak mau menjawab pertanyaan ana?” tukas ustadz. Akhirnya aku beranikan untuk menjawab pertanyaan beliau dengan rasa pilu menusuk hati, dengan berlinang air mata dan sedikit terbata-bata aku kuatkan diriku. “Ustadz afwan ana tak kuasa mengutarakanya disini.” “Oh baiklah antum ke kantor ana aja ya..ma’an!”

Akhirnya aku diajak ustadz menuju ruanganya, di maktab tahsin wa tahfidz al quran yang jaraknya tidak jauh di masjid al husna. Sesampainya aku di maktab dan duduk berhadapan dengan ustadz, lalu aku utarakan segalanya. “Ustdaz, afwan ana datang dengan kondisi seperti ini. Sudah lama ana merasakan ketidak beresan pada diri ana, ceritanya panjang ustadz, waktu itu setelah ana lulus dari ma’had ini kemudian ana lanjutkan perkuliahan ana di kota bandung tepatnya di universitas padjadjaran. Dua tahun ana disana alhamdulillah kondisi ruhiyah dan tarbiyah ana terjaga dengan baik, ilmu yang ana dapatkan di pesantren ini coba realisasikan dalam kehidupan kampus dan masyarakat sekitar kampus, namun masuk tahun ketiga ana disana muncullah problem yang besar yang ana hadapi ustadz. Ana ingat waktu taujih ustadz sebagaimana dalam surat al imron : 14 “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak…” Jauhilah segala bentuk kemaksiatan baik kecil maupun besar, terutama ketika engkau sedang berinteraksi dengan lawan jenis, jagalah adab-adab yang telah diatur dan dicontohkan oleh nabiyullah Muhammad saw, itulah kata-kata ustadz yang masih ana ingat.

Aku berdiam sejenak, dengan aliran air mata yang tak kuasa aku bendung dan aku sedikit melirik ke arah ustadz, beliau terlihat begitu empati dan terlihat bercahaya pada muka beliau sehingga aku semakin kuat untuk meneruskan ceritaku. “Waktu tahun ke tiga aku diamanahkan untuk menjadi bagian dari dakwah ini untuk mengurus kampus” namun aku sengaja merahasiakan nama amanah/organisasi dari ustadz. Amanah ini bukan hal yang baru bagi ana, di amanah ini interaksi laki-laki dan perempuian begitu besar dan memang ana ditempatkan pada amanah yang begitu curam sehingga siapapun yang tidak mampu untuk mengikat dirinya dalam aqidah maka niscaya dia akan tergelicir dan jatuh. Tak pernah terbayang, suatu waktu Allah swt menunjukkan kekuasaanya untuk menguji ana di dalam medan dakwah/organisasi tersebut. Karena seringnya ana berinteraksi dengan lawan jenis aku sedikit gelisah, awalnya aku sanggup menjaga adab-adab berinteraksi dengan lawan jenis dengan godhul bashor, tidak menatap secara langsung, dan berbicara seperlunya. Namun syaiton mengikis keimanan ana, sehingga adab-adab yang ana lakukan sedikit-dikit hilang. Kondisi ini berakibat pada kondisi ruhiyah ana, dari mulai tilawah quran yang semakin berkurang dari targetan minum 1 juz/hari, qiyamullail yang tak jarang dalam 1 bulan 0x (nihil), dzikir al ma’tsurot yang tak pernah lagi ana baca tiap pagi dan petang, dan yang paling ana sakitkan adalah hafalan quran dan hadits yang ana miliki dikit-demi sedikit hilang, sungguh mengrikan ustadz karena ana menyengaja tidak menjaganya”. Sambil mengusap air mata yang terus menetes, aku lanjutkan ceritanya. “Kondisi ruhiyah ini sebanding dengan tarbiyah ana, liqoat/halaqoh ana berantakan dan ana sendiri tergolong mutarobbi yang jarang masuk (bolos) dengan berbagai alasan, padahal waktu dulu paling anti bolos, halaqoh adalah santapan terbesar dalam menjalani kehidupan sehingga 1 kali saja ana tak masuk terasa kering hidup ini, aktivitas dakwah bakal tersendat, sekarang liqo atau tidak liqo sama tidak ada bedanya. Hati ini kering ustadz, kelezatan dalam beribadah, berdzikir, berdakwah tidak kunjung kembali. Sering ana coba berintrospeksi diri namun Allah swt belum mau memberikan hidayahnya lagi pada ana, maka ana sengaja untuk hadir disini kembali ke pesantren ini untuk mencari hidayahNya, karena disinilah awal mula ana mendapatkan hidayah dari Allah swt untuk berada dalam dakwah ini. Bimbinglah ana lagi ustadz untuk mencari jalan hidup baru disini, kembali kepada jalan Allah swt yang akan dijanjikan dengan surgaNya.

Setelah aku bercerita panjang lebar dan ustadz memberikan nasihatnya dengan gaya bahasa yang lugas dan ciri khasnya aku sedikit tenang dan meneguhkan aku untuk berada di serambi madinah ini sebutan bagi ana untuk podok pesantren peradaban tempat aku singgah hidup selama 6 tahun lamanya.

All Ustadz in boarding school  you are my inspiration

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: